BOLARETRO: Kutukan Juara Bertahan

Jasa Bola Tahukah Anda apa yang dilakukan il capitano Azzurri usai merebut gelar Piala Dunia empat tahun lalu di Berlin? Sepulangnya ke tempat penginapan di Duisburg, Fabio Cannavaro mengajak anak lelakinya tidur nyenyak bersama piala seberat 3,8 kg itu. Itu kaulnya sejak sukses menyingkirkan tuan rumah Jerman di semifinal. Itulah cerita indah Italia empat tahun lalu usai skandal calciopolli. Tak heran sejak kedatangan di Casa Azzuri, Duisburg, suasana harmonis coba dibangun pasukan Marcelo Lippi. Kalau ditanya apa kunci sukses mereka, jawabannya adalah pasta, prosciutto, dan parmesan. Sebuah filosofi sang allenatore Lippi yang sengaja tidak menyediakan makanan khas Italia itu agar rasa lapar pasukannya dituntaskan atau dilampiaskan dalam bentuk lapar gelar yang telah 24 tahun tidak mereka dapatkan. Allenatore yang wajahnya mirip aktor Hollywod Paul Newman ini memang dikenal sebagai pemikir. Memenangi Piala Dunia bukan hanya masalah kualitas pemain dan strategi, tapi juga bumbu-bumbu penambah motivasi. Karena itu, usai kegagalan Roberto Donadoni di Euro 2008, FIGC kembali berpaling pada pelatih yang telah memenangi lima scudetto ini. Saat Azzurri memulai usaha mempertahankan gelar di Green Point Stadium, Cape Town, 14 Juni melawan Paraguay, Marcello Lippi akan menjadi pelatih ketiga yang menangani La Nazionale di dua Piala Dunia berturut turut. Allenatore back to back Piala Dunia pertama adalah Vittorio Pozzo, yang sukses merebut dua gelar berturutan pada 1934 dan 1938. Ada cerita unik di balik sukses ganda Azzurri itu. Plus, tambahan gelar juara Olimpiade Berlin 1936, Vittorio Pozzo dengan jumawa mengatakan bahwa tidak ada yang bisa menahan Italia merebut gelar ketiga mereka empat tahun lagi. Nyatanya Perang Dunia II membuat Vittorio Pozzo gagal mewujudkan mimpi Triplete da Mondial. Saat PD 1950 digelar, kekuatan Azzurri sedang menurun setelah tragedi kecelakaan pesawat Superga yang menewaskan sejumlah pemain Torino, yang notabene tulang punggung La Nazionale. Azzurri gagal mempertahankan gelar. Alih-alih bersedih, masyarakat Italia menganggap semua tragedi dari Perang Dunia sampai Superga adalah tulah dari kesombongan diktator Benito Musolini dan juga kejumawaan Vittorio Pozzo. Bahkan lebih lanjut ada semacam kepercayaan di masyarakat Italia Selatan bahwa jika Italia suatu saat nanti kembali merebut Piala Dunia jangan pernah menggunakan pelatih yang sama ketika mempertahankan gelar empat tahun kemudian. Bearzot dan Lippi Entah benar atau tidak kepercayaan itu, Enzo Bearzot, yang back to back allenatore tahun 1982–86, hanya sukses merebut gelar di Spanyol tapi gagal mempertahankan gelar di Meksiko. Secara logika kegagalan itu bisa ditebak. Usai Espana ‘82, Dino Zoff dkk. bahkan gagal lolos ke putaran final Euro ‘84. Mereka terseok-seok di kualifikasi dan hanya merebut lima poin, jauh di bawah Rumania, Swedia, dan Cekoslowakia. Pascakegagalan itu, sejumlah pemain seperti Dino Zoff, Claudio Gentile, dan Giancarlo Antognoni mundur dari timnas. Praktis Azzurri datang ke Meksiko 1986 dengan mengandalkan sisa skuad 1982 yang sudah uzur, plus pasukan muda minim pengalaman, tanpa daya gedor di depan dan benteng kokoh di belakang. Jadi, bukan mutlak karena kutukan back to back allenatore seperti yang dikhawatirkan masyarakat Italia Selatan. Tugas Lippi untuk mengejawantahkan kutukan tersebut tahun ini. Usai kegagalan Euro 2008, La Nazionale belum tampil seperti di Jerman 2006. Hasilnya, mereka gagal lolos ke semifinal Piala Konfederasi tahun lalu dan untuk pertama kali kalah dari sebuah negara Afrika. Memang Lippi membawa pasukannya lolos ke Afrika Selatan saat masih menyisakan satu pertandingan, tapi berbagai duel persahabatan yang mereka lakukan pun tidak membawa hasil maksimal, seperti kalah 0-2 dari Brasil dan ditahan imbang tanpa gol oleh Belanda dan Kamerun. Dengan masih menyisakan sembilan pasukan 2006, usia rata rata pemain pilihan Lippi adalah 30 tahun. Usia yang terlalu tua untuk memenangi Piala Dunia. Tapi, masyarakat Italia juga percaya bahwa kutukan back to back allenatore tidak akan berlaku tahun ini karena mereka juga punya back to back il capitano seperti halnya Giuseppe Meazza tahun 1934 dan 38. Lippi adalah pemikir dan menarik ditunggu wawasannya untuk mengikuti jejak Vittorio Pozzo 62 tahun lalu. Atau nasibnya hanya seperti Enzo Bearzot 24 tahun silam? Yang pasti, sesuai kaul Cannavaro, jika mereka sukses 11 Juli nanti The Great Wall of Azzurri ini akan mengajak istri dan anaknya tidur bersama FIFA World Cup Trophy dan ia mundur dari sepak bola internasional. (Penulis: Gita Suwondo)

Sumber: Juara.net