Indeks Terorisme Global 2016, Nigeria Bertahan di Peringkat Ketiga

London – Sesuai laporan Indeks Terorisme Global 2016 yang dirilis di London, Inggris, Rabu (16/11), Institut Ekonomi dan Perdamaian atau Institute for Economics and Peace (IEP) menyebut Nigeria masih menduduki peringkat ketiga di antara negara-negara di dunia yang mengalami serangan teror terburuk. GTI dibuat berdasarkan pantauan dan pengukuran dampak terorisme di 163 negara, yang meliputi 99,7% dari penduduk dunia. Nigeria telah menduduki posisi yang sama dalam komposisi peringkat terorisme global tahun 2015, dan pernah menduduki peringkat keempat pada 2014. Pada tahun 2016, Nigeria kembali menduduki peringkat ketiga setelah Irak dan Afghanistan. Sementara itu, Pakistan, Suriah, Yaman, Somalia dan India masing-masing berada di peringkat keempat, kelima, keenam, ketujuh dan kedelapan. Sementara Mesir dan Libia berada dalam posisi kesembilan dan kesepuluh, dalam peringkat terbaru. GTI menyatakan bahwa dalam negara-negara OECD, pengangguran di kalangan pemuda, tingkat kriminalitas, akses ke senjata, dan ketidakpercayaan dalam proses pemilihan adalah faktor yang berhubungan dengan terorisme. Kelompok Negara Islam (IS) juga disebut menyebar makin aktif di banyak negara, jumlahnya melonjak dari 13 negara pada tahun 2014 menjadi 28 negara pada tahun 2015. Berdasarkan laporan tahunan Indeks Terorisme Global (GTI) 2016, sebanyak 29.376 orang tewas akibat terorisme pada tahun 2015. Jumlah itu turun sebanyak 3.389 jika dibandingkan pada tahun 2014. Kecenderungan menurun tersebut tampak sejak tahun 2010. Sebagian besar penurunan karena berkurangnya ribuan korban jiwa di Irak dan Nigeria. Namun, IS dan Boko Haram masih memperluas jangkauan geografis di Nigeria pada tahun lalu. Bahkan Boko Haram menewaskan lebih banyak orang di Niger, Kamerun dan Chad dibandingkan tahun sebelumnya. Sejumlah afiliasi IS tercatat melancarkan serangan di 28 negara pada tahun 2015, 15 serangan lebih banyak daripada tahun 2014. Kematian akibat terorisme di negara-negara OECD meningkat dari 77 jiwa pada tahun 2014 menjadi 577 jiwa pada tahun berikutnya, dan lebih dari setengah kasus kematian itu terkait IS. Unggul Wirawan/WIR Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu