Derby dua klub terluka

Sindonews.com – Persib Bandung dan Pelita Bandung Raya (PBR) memiliki similiaritas situasi dan kondisi jelang laga derby Bandung di Stadion Siliwangi, Rabu (13/3). Kedua tim sama-sama dalam tren menurun pascakekalahan yang dialami di laga sebelumnya. Armada Maung Bandung cukup terpukul dengan kekalahan 1-2 dari Sriwijaya FC, akhir pekan lalu. Begitu juga dengan PBR yang meradang di kandang sendiri usai dipermalukan klub promosi Persita Tangerang 0-1 di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Sabtu (9/3). Reaksi yang ditunjukan masing-masing klub sedikit berbeda. Jika Persib biasa-biasa saja meski diliputi kekecewaan lumayan mendalam. PBR bereaksi cukup keras, setelah muncul isu pergantian di kursi pelatih setelah Direktur Teknik PBR, Daniel Darko Janackovic meminta manajemen PBR untuk mengevalusi kinerja Simon. Isu pemecatan Simon ini, disadari atau tidak menggangu persiapan klub berjuluk The Boy’s Are Back tersebut, jelang duel satu Kota dengan saudara tuanya yang kembali terjadi setelah 15 tahun. Terakhir kali kedua tim bersua di babak 12 besar Liga Indonesia musim 1996/1997 di Stadion Siliwangi dan berakhir imbang tanpa gol. Persib sendiri kali ini harus menghadapi situasi sulit di sektor tengah karena harus kehilangan playmaker terbaiknya, Firman Utina akibat akumulasi kartu kuning. Hal itu tentu cukup membuat pelatih Djadjang Nurdjaman terkuras pikirannya. Georges Parfait Mbida Messi yang absen di empat laga sebelumnya. Kemungkinan bakal diplot sebagai suksesor Firman yang harus diistirahatkan karena aturan baru PT. Liga Indonesia musim ini yang memberikan hukuman larangan bermain satu kali bagi pemain yang sudah mengoleksi tiga kartu kuning. Terlepas dari segala kondisi yang dihadapi, Djanur mengungkapkan Persib harus bisa memaksimalkan keuntungan bermain di Bandung. Meski PBR bakal bertindak sebagai tuan rumah. Tapi Djanur yakin simpati publik sepak bola Bandung lebih besar diarahkan buat Maung Bandung. Karena itu, menurut Djanur laga tandang melawan PBR laksana bermain di kandang. “Bisa dikatakan demikian. Dan, itu harus kita gunakan sebagai sebuah keuntungan biar motivasi pemain lebih terangkat,” tutur Djanur. Sepulangnya dari Palembang, Djanur menggaris bawahi organisasi pertahanan yang menurutnya kurang bagus. Ia menegaskan organisasi pertahanan bukan semata-mata tanggungjawab pemain bertahan. Sebab menurutnya sebuah pertahanan yang baik bisa dibangun dari semua lini. “Memang harus dibenahi. Kita tidak bicara lini per lini. Sebab pada dasarnya saat tim menyerang dan bertahan semuanya memiliki tanggung jawab untuk saling membantu maupun menutupi,” ungkap Djanur. ( wbs ) dibaca 1.055x

Sumber: Sindonews