Kematian Bocah SD Larangan Tidak Wajar, Polisi Selidiki Pelaku

Situs Taruhan Bola Online Jakarta – Hasil autopsi terhadap jenasah Dafa Mustakim (7), siswa kelas 1B, Sekolah Dasar Negeri (SDN) Larangan 2, Kota Tangerang, menyatakan kematian korban tidak wajar karena ditemukan retak di bagian kepala. Polisi sedang mengkonstruksi penyelidikan untuk menentukan siapa pelaku yang menyebabkan korban meninggal dunia. “Sudah (keluar hasil autopsi). Tapi itu kan tidak bisa langsung menunjuk ke siapa (pelaku),” ujar Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Awi Setiyono, Senin (31/10). Dikatakan Awi, hasil autopsi menjelaskan kematian korban tidak wajar. “Iya. Ada lebam di mata, ada kekerasan benda tumpul di pelipis kanan, tengkorak dasarnya itu retak mengeluarkan darah. Dari situ lah diperkirakan si Dafa meninggal,” ungkapnya. Ia menyampaikan, penyidik sedang mengkonstruksi penyelidikan untuk mengetahui siapa pelakunya. “Tapi kembali polisi kan harus mengkontruksikan, kalau kekerasan benda tumpul itu siapa yang melakukan,” katanya. Menyoal ada dugaan ibu tiri korban yang melakukan, Awi belum bisa memastikannya. “Itu baru katanya. Berarti kan polisi harus mengkontruksikan lagi, saksi ahli yang bisa menjelaskan. Kita lagi cari barang bukti di TKP, siapa tahu bisa menunjukan itu,” tandasnya. Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Metro Tangerang AKBP Wiji Lestanto mengungkapkan, penyidik sedang meminta keterangan saksi ahli terkait hasil autopsi. “Masih perlu pendalaman dari beberapa keterangan ahli, ahli forensik, ahli DNA, maupun ahli lain yang diperlukan untuk kepentingan penyidikan,” jelasnya. Ia menambahkan, penyidik belum menetapkan tersangka dalam kasus ini. Ibu tiri korban atas nama Yati masih berstatus saksi. “Ibu tiri Dafa masih saksi,” katanya. Sebelumnya diberitakan, Dafa Mustaqim meninggal dunia diduga akibat dianiaya sang ibu tiri. Kasus ini muncul ketika kabar meninggalnya Dafa menjadi viral di media sosial. Selanjutnya, Polsek Ciledug meminta keterangan dari pihak SDN Larangan 2 terkait dugaan penganiayaan terhadap muridnya itu. Pihak sekolah menyatakan, sebelum meninggal dunia korban mengalami luka di kepala hingga menggeluarkan darah, Rabu (19/10) lalu. Ketika ditanya dan dibujuk, korban akhirnya menyampaikan kalau luka itu diduga akibat dipukul ibu tirinya. Esok harinya, Dafa mengalami panas tinggi dan sempat dibawa ke klinik. Namun karena panasnya tak kunjung turun, korban akhirnya dibawa keluarga ke Rumah Sakit Sari Asih Ciledug. Akibat keterbatasan biaya Dafa tidak bisa mendapatkan perawatan di ruang Intensif Care Unit (ICU) dan meninggal dunia di ruang Unit Gawat Darurat (UGD) Rumah Sakit Sari Asih, Kamis (20/10). Bayu Marhaenjati/YUD BeritaSatu.com

Sumber: BeritaSatu