Kurikulum Pendidikan Dinilai Belum Sejalan Kebutuhan Industri

Situs Taruhan Bola Online Jakarta – Presiden Singapura Management University (SMU), Arnoud De Meyer, mengatakan, berdasarkan hasil survei keahlian angkatan kerja yang dihadapi oleh negara-negara Asean seperti Singapura, Malaysia, Indonesia, Filipina, dan Thailand, menemukan fakta bahwa sektor pendidikan merupakan akar dari semua masalah yang dihadapi selama ini. “Survei ini menemukan, bahwa masalah yang dihadapi saat ini diperparah oleh sistem pendidikan atau kurikulum yang belum bisa memenuhi kebutuhan dunia yang terus berkembang,” kata Around, dalam siaran persnya, Kamis(3/11). Around menyebutkan, ketidaksiapan ini terlihat dari jumlah tenaga pendidik berkualitas yang belum mencukupi, serta pendanaan masih kurang memadai. Pasalnya, lanjut dia, penelitian tersebut menemukan bahwa Indonesia unggul pada industri yang membutuhkan keahlian rendah, sehingga perlu secara signifikan menambah jumlah pekerja ahli untuk mengangkat status ekonominya menjadi negara berpendapatan menengah. “Saat ini, hanya 16 persen sarjana yang mempelajari bidang teknik, konstruksi, dan manufaktur, sebagai keahlian inti yang penting bagi Indonesia ketika ekonomi semakin terindustrialisasi. Ini menunjukkan jika Indonesia membutuhkan perombakan yang besar dan fundamental terhadap roadmap pendidikan nasional untuk mengatasi masalah kelangkaan tenaga ahli yang dibutuhkan,” ucapnya. Menurut penelitian tersebut, kata Arnoud, ada kesenjangan mencolok antara keahlian yang diajarkan oleh sekolah dan keahlian yang dicari oleh industri. Kesenjangan antara sekolah dan industri ini dapat dilihat pada industri utama Indonesia yang mengalami pertumbuhan, seperti sektor teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Terhitung dari 200.000 mahasiswa TIK yang lulus dari universitas setiap tahunnya mencukupi dari segi jumlah, rangkaian keahlian yang mereka miliki kerap kali tidak sesuai dengan kebutuhan industri. Kecenderungan serupa juga terlihat pada sektor-sektor yang memiliki pertumbuhan tinggi seperti otomotif dan pariwisata. Untuk itu, sebagai tanggapan terhadap temuan-temuan ini, J.P. Morgan dan organisasi penelitian dan perkembangan nirlaba global Education Development Center (EDC) meluncurkan program kesiapan angkatan kerja yang bertujuan menjembatani kesenjangan keahlian tersebut. Sebagai langkah pertama membantu memperkecil kesenjangan antara sekolah dan industri, merevisi kurikulum yang ketinggalan zaman, meningkatkan komunikasi antara industri dan lembaga pendidikan, sehingga dapat memperbaiki kualitas tenaga pendidikan, dan mendorong peningkatan keahlian bagi para pekerja. Dalam hal ini merekomendasikan peta jalan yang lengkap dan terperinci untuk memperkuat sistem pendidikan dengan penekanan terhadap pelatihan untuk menyiapkan lulusan yang siap memasuki industri pada semua tingkat, terutama di bidang pelatihan dan pendidikan teknis serta kejuruan. Arnoud menjelaskan, proyek Accelerated Work Achievement and Readiness for Employment 2 (AWARE2) adalah program inovatif yang membantu generasi muda di Indonesia, Thailand, dan Filipina agar memperoleh keahlian teknis dan kesiap-kerjaan yang dituntut para pemberi kerja dalam ekonomi digital yang dinamis di kawasan tersebut. Senada dengan itu, Presiden dan CEO EDC, David Offensend, mengatakan, tujuan EDC adalah mengembangkan model baru pendidikan berbasis kebutuhan yang akan mempersiapkan generasi muda ASEAN untuk berkarir dan hidup dalam ekonomi digital. “Kita tahu bahwa teknologi akan melahirkan pekerjaan-pekerjaan baru sekaligus menggantikan peran manusia melalui otomasi. Dengan mempersiapkan para pelajar agar memiliki keterampilan-keterampilan kognitif tingkat tinggi semisal kreativitas, pemikiran desain, dan analisis terapan serta pemecahan masalah, kita dapat memastikan mereka akan memiliki kemampuan adaptif untuk mengantisipasi dan merespon pergeseran-pergeseran kebutuhan dalam sektor teknologi yang terus berubah,” terangnya. Mendatang, program untuk Indonesia akan berfokus pada perluasan keterlibatan pelaku industri dalam sektor pendidikan untuk menghasilkan tenaga kerja baru TIK yang lebih banyak dan lebih baik, dengan spesialisasi program-program multimedia dan desain grafis di sekolah-sekolah mitra dengan technical and vocational education and training (TVET). Maria Fatima Bona/FER Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu