Tingkatkan Bisnis Korporasi, Bank Andalkan Sindikasi

Situs Taruhan Bola Online Jakarta – Sejumlah bank menilai porsi bisnis sindikasi menopang pertumbuhan kredit korporasi sampai akhir Agustus 2016. Di samping itu, melalui opsi sindikasi bank diharapkan dapat menimalkan risiko kredit yang ditanggung. Director Corporate Banking PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Royke Tumilaar menjelaskan, perseroan berupaya mengarahkan pembiayaan bernominal besar di atas Rp 1 triliun dapat dikerjakan secara sindikasi. Sebagai contoh, belum lama ini Bank Mandiri berpartisipasi membiayai Rp 1 triliun dalam proyek kredit sindikasi senilai Rp 4 triliun untuk PT Angkasa Pura I (Persero). Perseroan juga berpartisipasi dalam kredit sindikasi kepada PT Perusahaa Listrik Negara (Persero) atau PLN pada minggu lalu. Dalam proyek tersebut Bank Mandiri berkolaborasi dengan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI), untuk memberikan komitmen pinjaman kredit investasi Rp 12 triliun dan tambahan kredit modal kerja Rp 20 triliun. Menurut Royke, Bank Mandiri juga masih memiliki sejumlah pipeline penyaluran kredit korporasi hingga akhir tahun ini. “Kami masih ada proyek besar. Kalau mengenai debitor bisnis korporasi, kami menggarap BUMN maupun swasta dengan komposisi hampir imbang sekitar 50:50,” papar dia di sela acara penandatanganan pemberian kredit modal kerja antara Bank Mandiri dan PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau Pelindo II di Jakarta, Kamis (15/9). Berkaitan dengan bisnis korporasi, ESVP Corporate Banking Bank Mandiri Alexandra Askandar menambahkan, proyek dalam pipeline perseroan selanjutnya masih meliputi sektor infrastruktur. Sebab, infrastruktur adalah penunjang cukup besar pada kredit korporasi Bank Mandiri. Royke optimistis prospek bisnis infrastruktur tahun depan akan meningkat. Dia juga berharap penyaluran kredit korporasi Bank Mandiri di infrastruktur naik sekitar 15% secara year on year (yoy) pada 2017. Sementara untuk kredit nonsindikasi, Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Sulaiman A Arianto menuturkan, pada 15 September 2016 Bank Mandiri dan Pelindo II menyepakati pemberian kredit working capital maksimum Rp 250 miliar untuk membantu pengembangan bisnis anak usaha Pelindo II. Pinjaman tersebut merupakan kelanjutan dari fasilitas treasury line senilai maksimal US$ 70 juta yang telah disepakati pada Juni 2016, sebagai alternatif sumber pendanaan valuta asing (valas) Pelindo II. Sementara itu, Direktur Perbankan Global PT Maybank Indonesia (Persero) Tbk Eri Budiono mengatakan, sejak awal tahun pertumbuhan kredit korporasi Maybank Indonesia banyak disokong oleh bisnis sindikasi. Salah satu sektor yang potensial adalah infrastruktur seperti pembangunan jalan tol dan pembangkit listrik (power plant). Namun, Eri mengakui, saat ini portofolio Maybank Indonesia di sektor infrastruktur terhadap total kredit masih kurang dari 5%. “Kami masih baru kalau mengenai pembiayaan infrastruktur, karena bisnis ini membutuhkan dana maupun proses legal yang panjang. Ke depan, Maybank Indonesia akan coba push (dorong) pembiayaan ke sektor tersebut,” ungkap dia. Mengenai kredit korporasi, pada semester II-2016 Eri menyatakan salah satu proyek yang akan dibiayai mencapai Rp 1 triliun. Maybank Indonesia juga masih dalam tahap menganalisis kredit tersebut. “Dengan demikian, kami belum tahu apakah akan mengambil sendiri atau buka ke sindikasi. Intinya, jika sindikasi, perseroan ingin menjadi leadingproject agar dapat mengontrol struktur kredit sesuai risk appetite kami,” jelas dia. Adapun untuk pemberian kredit dengan nominal besar kepada satu perusahaan, menurut Eri, memang bank cenderung memilih sindikasi karena mereka ingin menerapkan aspek kehati-hatian. “Selain sindikasi, ada kredit korporasi yang kami salurkan sendiri. Bila perusahaan itu merupakan BUMN yang bagus atau yang sudah Maybank Indonesia kenal baik, tentu kami berani berikan pinjaman nominal besar,” jelas dia. Devie Kania/ARS Investor Daily

Sumber: BeritaSatu